
Kabupaten Tapanuli Tengah Menuju Sentra Budidaya Tambak Udang Terbesar di Asia pada 2030
Assoc. Prof. Dr. Ir. Eddiwan Kamaruddin, M.Sc.
Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Matauli
Jalan KH Dewantara No. 1, Sibulian Indah, Pandan,
Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara
Pendahuluan – Mengapa Budidaya Udang?
Kabupaten Tapanuli Tengah saat ini baru saja mengalami bencana hidrometeorologi yang sangat berat. Hampir semua wilayahnya diluluhlantakan oleh bencana tersebut. Namun, dengan musibah ini telah terungkap kejanggalan dan ketidakbenaran dalam pengelolaan kawasan sebagai wilayah yang potensial. Daerah ini masih belum menempatkan posisinya sebagai daerah produktif yang tepat. Banyak kebijakan yang selama ini bersifat kontraproduktif terjadi di mana-mana. Namun, pascabencana, tentu saja pemerintah dan masyarakat mulai memikirkan pembangunan daerahnya mau diarahkan ke mana? Harus jadi apa daerah ini ke depannya nanti? Apakah daya dukung daerah ini mendukung mewujudkan tujuan tersebut? Semua menjadi tanda tanya besar. Padahal hari ini jelas terbentang potensi perikanan dan kelautan serta pariwisata yang sangat potensial. Misal saja menjadikan daerah ini sebagai sentra budidaya udang ke depannya. Kenapa tidak?
Budidaya udang merupakan salah satu subsektor strategis dalam perikanan budidaya global. Komoditas ini memiliki nilai ekonomi tinggi, pasar ekspor kuat, dan permintaan dunia yang terus tumbuh. Di tingkat nasional, udang menyumbang persentase besar dari ekspor perikanan Indonesia, dengan nilai mencapai lebih dari US$2 miliar dan berkontribusi sekitar 34,5% terhadap total ekspor sektor ini. Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), kabupaten pesisir di Sumatera Utara, memiliki potensi sumber daya alam dan geografis yang mendukung budidaya tambak udang. Produksi budidaya udang di daerah ini pada 2024 tercatat sekitar 4.000 kuintal (400 ton), menjadikannya komoditas budidaya unggulan di antara jenis lain. Pertanyaannya adalah: Bisakah Tapanuli Tengah menjadi sentra budidaya tambak udang terbesar di Asia pada 2030? Jawabannya potensial “ya” – asalkan didukung kebijakan tepat, investasi teknologi, infrastruktur, pasar, dan tata kelola berkelanjutan.
Dasar Pemikiran dan Teori Relevan
- Teori Keunggulan Kompetitif Lokasi. Menurut teori ekonomi lokasi (Hotelling; Christaller), pengembangan industri tertentu bergantung pada keunggulan sumber daya alam, akses pasar, dan infrastruktur. Tapteng memiliki garis pantai yang luas dan dataran pesisir yang cocok untuk tambak udang, sebuah keunggulan awal dalam pembentukan klaster industri perikanan budidaya.
- Teori Klaster Industri (Porter). Klaster industri mengakselerasi produktivitas melalui konsentrasi pelaku usaha, penyedia teknologi, dan institusi pendukung di suatu wilayah. Jika Tapteng menciptakan ekosistem klaster tambak (terintegrasi dengan hatchery, feed mill, cold chain logistik, dan pelabuhan ekspor), maka keunggulan kompetitifnya akan tumbuh pesat.
- Sustainable Aquaculture Development. Budidaya perikanan modern harus memperhatikan aspek lingkungan dan sosial, terutama mitigasi dampak terhadap mangrove dan kualitas air. Konsep budidaya berkelanjutan harus diterapkan agar dapat tumbuh jangka panjang tanpa kehilangan basis sumber daya.
Selain itu, fakta pendukung yang cukup kuat adalah kondisi industri udang global dan nasional serta industri udang global Asia. Kondisi ini tidak bisa diabaikan. Paling tidaknya perlu dipertimbangkan kondisi sebagai berikut:
- Asia tetap menjadi kawasan utama produksi udang global, dengan dominasi negara- negara seperti China, India, dan Vietnam. Produksi udang Asia menunjukkan dinamika positif di tengah tantangan seperti penyakit dan perubahan iklim.
- Industri Udang Indonesia. Indonesia fokus meningkatkan produksi nasional, dengan target mencapai jutaan ton pada 2030 dan melakukan modernisasi tambak tradisional ke semi-intensif dan intensif untuk meningkatkan produktivitas.
- Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membangun model tambak udang berbasis kawasan (biosecurity & sustainable), dengan produksi ratusan ton per siklus dan nilai ekonomi puluhan miliar.
Sebaliknya, potensi Tapanuli Tengah saat ini yang sangat mendukung tujuan tersebut antara lain:
- Sumber Daya Alam dan Posisi Geografis. Tapteng memiliki garis pantai yang panjang, dataran pesisir rendah, dan akses langsung ke laut lepas—potensi ideal untuk tambak udang vaname dan jenis lain yang bernilai ekspor.
- Produksi Saat Ini. Data produksi budidaya Tapteng 2024 menunjukkan udang menjadi salah satu komoditas dominan, menunjukkan minat dan pengalaman lokal dalam sektor ini.
- Akses Pasar dan Ekspor. Indonesia adalah eksportir udang besar dunia. Jika Tapteng dapat mengembangkan produksi untuk memenuhi standar ekspor (HACCP, BAP, ASC), peluang pasar ekspor ke AS, Jepang, Uni Eropa, dan ASEAN sangat besar.
Berdasarkan beberapa studi kasus dan pembelajaran internasional dapat menjadi pembanding untuk pengelolaan Kabupaten Tapanuli Tengah ke depannya. Adapun pelajaran itu dapat dilihat pada:
- Bangka Tengah – Pengembangan Regional. Di mana Kabupaten Bangka Tengah telah menjadi kawasan penghasil udang vaname dengan produksi lebih dari 580 ton, mendorong pertumbuhan usaha budidaya lokal lewat penyederhanaan regulasi dan pemberdayaan pelaku usaha.
- Model Tambak Udang Berbasis Kawasan (Kebumen). Model kawasan tambak udang yang didorong KKP di Kebumen menjadi contoh konkret bagaimana klaster budidaya terintegrasi dapat menghasilkan puluhan ton udang per petak tambak, serta membuka peluang pasar langsung dari kawasan.
Strategi Pengelolaan untuk Tapanuli Tengah 2030 yaitu untuk menjadi “Sentra Budidaya Tambak Udang Terbesar di Asia”, berikut strategi yang perlu dijalankan antara lain:
A. Penguatan Kebijakan dan Regulasi
- Perizinan terintegrasi (OSS-RBA) yang cepat dan transparan untuk investor tambak udang.
- Insentif fiskal dan nonfiskal bagi usaha budidaya udang teknologi tinggi.
B. Infrastruktur Pendukung
- Pembangunan hatchery (pembenihan) lokal dan pabrik pakan udang berkualitas.
- Cold chain & fasilitas logistik ekspor di Pelabuhan Daratan Sibolga dan Bandara Pinangsori.
C. Teknologi dan Inovasi
- Adopsi teknologi semi-intensif dan intensif (biofloc, RAS) untuk meningkatkan produktivitas dari tradisional.
- Sistem monitoring digital & IoT untuk kesehatan tambak dan prediksi cuaca/penyakit.
D. Ekonomi Skala dan Akses Pasar
- Konsolidasi petambak dalam klaster lokal untuk mendapatkan efisiensi skala (economies of scale).
- Standardisasi mutu dan sertifikasi (ASC/BAP) untuk menangkap pasar premium.
E. Keberlanjutan dan Lingkungan
- Restorasi mangrove dan sistem biosecurity untuk menjaga ekosistem pesisir.
- Pengelolaan limbah tambak dan penggunaan teknologi ramah lingkungan.
Paling tidak jika ingin menjadikan daerah ini sebagai daerah sentra udang, maka perlu disusun Rencana Aksi Tahap ke Tahap (Roadmap 2026–2030).
Tahun – Aksi Utama
2026: Survei lahan & studi kelayakan; pembentukan klaster budidaya; pembenihan lokal
2027: Infrastruktur hatchery, pabrik pakan skala menengah; pelatihan teknologi modern
2028: Fasilitas cold chain & ekspor; sertifikasi mutu ekspor
2029: Ekspansi produksi intensif & integrasi klaster ke pasar global
2030: Target produksi tinggi & volume ekspor terbesar Asia tercapai
Catatan: Rencana ini perlu dukungan multi-stakeholder (pemerintah pusat/daerah, investor, akademisi, dan petambak).
Rekomendasi Kebijakan dan Investasi
- Kemitraan pemerintah-swasta (PPP) untuk investasi fasilitas budidaya modern.
- Fasilitasi kredit perikanan & asuransi produk untuk mengurangi risiko petambak.
- Pengembangan SDM lokal lewat pendidikan vokasi budidaya perikanan.
- Fokus pada sertifikasi internasional untuk membuka pasar ekspor premium.
Penutup: Mimpi yang Terukur
Mewujudkan Tapanuli Tengah sebagai sentra budidaya tambak udang terbesar di Asia pada 2030 bukanlah mimpi yang utopis – dengan dasar geografis yang tepat, dukungan kebijakan kuat, investasi teknologi, dan kolaborasi multipihak, potensi tersebut realistis untuk dicapai. Industri udang adalah penopang pertumbuhan ekonomi biru di abad ke-21, dan Tapteng bisa menjadi lokomotifnya. Namun, semua itu memerlukan strategi terencana, keberlanjutan lingkungan, serta konsistensi kebijakan dan implementasi di lapangan.



